*tulisan iseng usai jam kerja* Ah Saya lelah Seharian ini parah Koneksi counterpart lemah Cabang pada resah Saya naik darah Ah Kemana gerangankah? Si penawar gundah Gadis berjaket merah Bertampang gelisah Yang menanyakan arah Ah Bibirnya merekah Menyunggingkan senyum ramah Buatku jadi pasrah Dan basah.. *Koq akhirnya jadi gini??*
Setiap kaki telanjang ini melangkah masuk ke dalam.. tubuh jadi merinding.. Ruangan itu ga bisa bikin gw betah tinggal lama... Dari sudut mata ke sudut mata, beberapa manusia tergolek. Menggores sebuah miris di hati.. Termasuk Eyang gw.. Ada rasa sesak ketika melihat dia terkulai, dengan dua infus, dengan alat bantu napas, dan alat-alat lain yang melintang di tubuhnya. Ada rasa sesak tiap kali mendengar alat pendeteksi denyut nadi (CMIIW) berbunyi 'tut... tut... tut'... Dan setiap ada di sampingnya, tak hentinya gw meminta pada Allah agar tidak mengubah alat bunyi tersebut menjadi 'tuuuuuuuuuuuuutttt' kalo gw ada di sana.... Jujur, gw gak kuat... Setiap ada di sampingnya, ada tanya yang ingin terucap.. "Sedang apa engkau sekarang, Eyang???" Tak ada jawaban. Yang ada hanya bunyi 'tut... tut... tut'. Ia terlalu pulas dalam tidurnya. Hikmah dari kejadian ini adalah terjalinnya silaturahmi keluarga besar bokap yang sempat meregang, bahkan meradang. Mereka ...
Membaca blog ini kembali membuat saya rindu dengan masa-masa mampu untuk mengeluarkan keluh kesah melalui media ini. Sayangnya seringkali niat atau semangat untuk menulis dibayangi oleh ketakutan membuang-buang waktu. Salahkan pada tren media sosial yang menjadikan kita sebagai generasi instan. Pak Yanuar Nugroho dalam sebuah webinar pernah mengatakan bahwa dari semua informasi instan ini, harga yang perlu dibayar adalah kedangkalan. Padahal memilih kata-kata, merangkainya menjadi kalimat, dan menghasilkan sebuah paragraf juga punya keasyikan tersendiri. Meskipun, isinya ya masih dangkal juga 😝. Selain menulis hal-hal yang tidak berguna seperti saat ini, kadang muncul hasrat untuk membuat cerita. Akun wattpad sudah punya, ide kadang lalu lalang di kepala, tapi sekali lagi selalu tidak pernah selesai. Padahal ya ga perlu takut ya. Dewi Lestari bikin rapijali aja pakai dipetieskan beberapa tahun. Nulis mah nulis aja, Bim. Toh ga ada juga yang baca 😆. Ah mau coba ah...
Comments