Halo nak . Ayah mau cerita lagi tentang om kamu yg satu ini. Di satu hari Minggu. Ayah baru saja masuk ke ruangan kantor dan kaget karena melihat anak ini di sana. Ngapain dia di kantor? Kalo Ayah mah jangan ditanya ya. Kemudian kami ngobrol panjang, lebih panjang dari yg bisa kami obrolkan di hari biasa. Maklum, dia masih anak baru, sementara hampir sepanjang hari Ayah sibuk. Darinya Ayah tau bahwa dia masuk untuk belajar ngoding. Dia bilang dia harus ngejar kekurangannya supaya dia bisa ngerjain kerjaannya nanti. Hati ayah gerimis. Ayah jadi kayak lagi bercermin. Bagaimana deg degannya ayah waktu masuk di perusahaan itu dan selalu bertanya tanya apakah ilmu ayah yang sedikit ini bisa bikin ayah bertahan di sini? Di hari itu juga Ayah mengajaknya gabung di tim Ayah, dan dengan sabar om kamu itu ngerjain apa yang Ayah suruh. Ayah ingat betul, pucatnya om kamu waktu ngehapus satu tabel. Persis kayak pucatnya Ayah d...
Setiap kaki telanjang ini melangkah masuk ke dalam.. tubuh jadi merinding.. Ruangan itu ga bisa bikin gw betah tinggal lama... Dari sudut mata ke sudut mata, beberapa manusia tergolek. Menggores sebuah miris di hati.. Termasuk Eyang gw.. Ada rasa sesak ketika melihat dia terkulai, dengan dua infus, dengan alat bantu napas, dan alat-alat lain yang melintang di tubuhnya. Ada rasa sesak tiap kali mendengar alat pendeteksi denyut nadi (CMIIW) berbunyi 'tut... tut... tut'... Dan setiap ada di sampingnya, tak hentinya gw meminta pada Allah agar tidak mengubah alat bunyi tersebut menjadi 'tuuuuuuuuuuuuutttt' kalo gw ada di sana.... Jujur, gw gak kuat... Setiap ada di sampingnya, ada tanya yang ingin terucap.. "Sedang apa engkau sekarang, Eyang???" Tak ada jawaban. Yang ada hanya bunyi 'tut... tut... tut'. Ia terlalu pulas dalam tidurnya. Hikmah dari kejadian ini adalah terjalinnya silaturahmi keluarga besar bokap yang sempat meregang, bahkan meradang. Mereka ...
Comments